oleh

Aktivitas Conveyor Pabrik Semen Merah Putih Diduga Melanggar Aturan

CHANELBANTEN.COM| Akibat terganggu oleh kebisingan aktivitas Conveyor  (alat pembawa barang) bahan baku semen merah putih milik PT Cemindo Gemilang, sejumlah masyarakat Desa Pamubulan, Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten kembali mengungkapkan kekesalannya.

Warga setempat menuding PT Cemindo Gemilang tidak memperdulikan keresahan warga atas kebisingan dan debu yang ditimbulkan dari aktivitas conveyor tersebut.

“Apabila musim kemarau, debu yang ditimbulkan dari conveyor itu  sangat menganggu pernapasan. Bagi kami kondisi seperti ini sangat berdampak buruk bagi kesehatan, lantaran conveyor melintas dipemukiman warga,” kata Sunardi (60) salah satu warga yang rumahnya persis berada dibawah jalur conveyor, kepada wartawan, Rabu (14/11/2018).

Sunardi mengaku pihak perusahaan semen merah putih tersebut tidak memperdulikan keluhan yang disampaikan oleh warga.”Tak ada jaminan kesehatan apalagi konpensasi dari perusahaan,”ujar Sunardi dengan nada kesal. 

Menanggapi hal itu, Kasi Pemerintahan Desa Pamubulan, Sudaryat menyebut aktivitas Conveyor di duga telah menimbulkan pencemaran Lingkungan Hidup berupa baku tingkat kebisingan yang telah melampaui baku mutu yang telah di tetapkan sebagai mana diatur dalam Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor:KEP-48/MENLH/11/1966 tentang baku tingkat kebisingan. Dimana baku tingkat kebisingan yang diperbolehkan untuk kawasan perumahan dan pemukiman serta lingkungan kegiatan Rumah Sakit, Sekolah dan tempat ibadat adalah 55DB (A).

Sedangkan, sambung Eces panggilan akrab Sudaryat, kebisingan yang ditimbulkan oleh aktivitas Conveyor sudah melebihi 74 DB(A),sehingga telah menimbulkan gangguan dan keresahan terhadap masyarakat sekitar bahkan dikhawatirkan akan berdampak terhadap kesehatan masyarakat.

“Lingkungan hidup yang baik dan sehat merupakan hak azasi setiap warga Negara Indonesia, sebagainana di amanatkan  dalam pasal 28 hurup H Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 atau Undang-Undang 32 Tahun 2009 tentang perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup,sebagaimana tercantum pada pasal 65 ayat 1,”ungkapnya.

Adanya dugaan telah terjadinya pelanggaran ketentuan baku tingkat ambang normal DB kebisingan juga di benarkan oleh Kepala Desa (Kades) Pamubulan, Ago Johani dengan memperlihatkan hasil uji sampel yang dilakukan oleh UPT Laboraturium Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Lebak di rumah warga dekat jalur Conveyor plow akhir menghasilkan Temperatur 32 Derajat Celcius dan untuk Kebisingan 74 DB.

“Dengan adanya keresahan masyarakat yang diperkuat fakta dan data seperti ini, saya meminta kepada Pemerintah Kabupaten Lebak dan dinas terkait untuk segera melakukan tindakan tegas, jangan sampai menunggu keresahan masyarakat semakin bergejolak dan akan merugikan bagi kesehatan masyarakat,”tegas Kades saat ditemui di kantornya, Rabu (14/11/2018). (APK)

Baca Juga: