oleh

ICW : Korupsi di Dunia Pendidikan Dipengaruhi Oleh Sistem Kekuasaan

CHANELBANTEN.com – Praktik korupsi kerap selalu melibatkan banyak pihak, termasuk korupsi di dunia pendidikan. Ade Irawan, Kordinator Indonesia Corruption Watch (ICW) mengatakan, korupsi di sekolah pada umumnya dipengaruhi oleh mata rantai kekuasaan.

“Kepala daerah, kepala dinas, hingga kepala sekolah diduga kuat memiliki andil dalam praktik korupsi di lembaga dunia pendidikan. Korupsi di sekolah sangat dipengaruhi karena adanya sistem kekuasaan,” kata Ade Irawan saat  bedah buku “Mengajar Untuk Perubahan” yang digelar Rumah Dunia dan ICW di Rumah Dunia, Kompleks Hegar Alam, Cipocok Jaya, Kota Serang, Minggu (17/12) .

Ade juga menyebutkan, ada dua model korupsi di sekolah. Pertama, kepala sekolah harus menyetorkan sejumlah uang ke dinas sebagai investasi agar posisi kepala sekolah aman dan sekolah diprioritaskan akan mendapatkan bantuan.  Kedua, korupsi dilakukan karena pemerasan atau karena memang ada permintaan uang dari pejabat dinas bahkan  kepala daerah setempat.

“Inilah yang juga dikenal dengan istilah ‘jatah preman’. Kalau kepala daerahnya bisa untuk tetap berkomitmen tidak akan ada praktik korupsi di sekolah yang ia pimpin,” katanya.

Baca juga :

Bambang Wisudo, aktivis Sekolah Tanpa Batas menyatakan, bahwa program pembuatan buku ini terselenggara berkat kerja sama dengan ICW. Menurutnya sekolah telah gagal mendorong siswa senang membaca dan bisa menulis.

“Dengan program ini diharapkan para guru bisa semakin banyak yang suka membaca dan menulis. Sebab tak mungkin menumbuhkan kecintaan siswa pada membaca buku dan menulis apabila para guru di sekolah tidak suka membaca buku apalagi menulis,” ujarnya.

Buku ini ditulis oleh 9 guru yang sebagian besar mengajar di daerah terpencil Provinsi Banten. Salah satu cerita yang menarik adalah para siswa di Pandeglang menggelar aksi unjuk rasa karena adanya dugaan korupsi uang komputer yang dilakukan kepala sekolah. Para siswa mempraktikkan pelajaran demonstrasi yang diajarkan Deny Surya Permana, guru yang juga salah satu penulis buku ini.

Deny Surya Permana, salah satu penulis buku ini mengatakan, bahwa aksi demonstrasi yang dilakukan oleh siswa sangat direspons oleh para guru, bahkan kepala dinas pendidikan. Bahkan ada upaya untuk pengucilan dan ancaman kepadanya bukan kepada para siswa. Namun ia memberikan rasa percaya diri kepada para siswa agar tidak takut dan bisa membuka masalah ini kepada insan pers. “Saya mengajari siswa agar mereka bisa kritis,” katanya. (Anas)

 
 

Berita Lainya