oleh

Ini Benda Paling Berharga Di Museum Multatuli Yang Membuat Kabupaten Lebak Mendunia

CHANELBANTEN.com – Sejak Museum Multatuli diresmikan Bupati Lebak Iti Octavia Jayabaya pada Minggu (11/2/2018), museum untuk mengenang tokoh Belanda Eduard Douwes Dekker pemilik nama asli Multatuli tersebut mulai ramai dikunjungi warga.

Kebanyakan warga yang berkunjung ke museum yang berdiri di bangunan bekas Kewedanaan Rangkasbitung di Alun-alun Timur No. 8 Rangkasbitung Kabupaten Lebak, karena penasaran ingin melihat isi museum tersebut.

Dari semua benda yang dipajang di museum seluas 230 meter persegi itu, ada satu benda yang sangat berharga dan bersejarah yakni buku novel Max Havelaar edisi pertama yang masih berbahasa Perancis (1876).

Selain novel Max Havelaar atau “Aku Yang Banyak Menderita” ada juga benda artepak lain diantaranya surat Multatuli kepada raja Willem III, tegel bekas rumah Multatuli, litografi/lukisan wajah Multatuli, peta lama Lebak, arsip-arsip Multatuli, dan buku-buku karya Multatuli lainnya.

Baca Juga : Max Havelaar Lahir Dari Perseteruan ‘Multatuli’ dan Bupati Lebak R.T.A Karta Nata Negara

Menurut Kepala Seksi Cagar Budaya dan Museum pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Lebak Ubaidilah Muchtar ada 34 artepak/benda yang di pajang di dalam museum. 

Kata dia, 34 benda itu ada yang didatangkan atau hibah dari Museum Amsterdam, Belanda dan ada juga yang berasal dari negeri sendiri.

Artefak hibah dari museum Belanda diantaranya  tegel rumah Multatuli, novel Max Havelar, buku-buku karya Multatuli, surat dari Multatuli untuk Raja Willem III dan litografi/lukisan wajah Multatuli.

“Sebenarnya tegel bekas rumah Multatuli itu berasal dari Rangkasbitung, namun pada tahu 1987 di bawa ke Belanda. Namun, pada tahun 2017 dihibahkan lagi ke Pemkab Lebak,” kata Ubaidililah. 

Sedangkan untuk benda yang berasal dari daerah sendiri, lanjut dia, diantaranya replika kapal VOC, tenun Baduy, baju Adipati, video dokumenter, penggilingan kopi, hasil alam dan lainya.

Masih kata Ubaidilah, museum memiliki 7 ruangan dengan empat tema. Pertama sejarah masuknya kolonial ke Indonesia, kedua Multatuli dan karyanya, ketiga Banten dan Lebak dan tema keempat Lebak masa kini.

“Ya, kalau boleh kita sebut benda yang paling berharga itu buku novel Max Havelaar edisi pertama yang masih berbahasa Perancis dan ada lainya seperti Tegel rumah bekas Multatuli. Novel inilah yang membuat Kabupaten Lebak mendunia,” bebernya.

Buku novel 'Max Havelaar' karya Multatuli yang di pajang di museum Multatuli. (poto dok. chanelbanten.com)
Buku novel ‘Max Havelaar’ karya Multatuli yang di pajang di museum Multatuli. (poto dok. chanelbanten.com)

MILIK DUNIA

Sementara, Bupati Lebak Iti Octavia Jayabaya berharap keberadaan museum Multatuli yang posisinya menjadi satu komplek dengan perpustakaan Saija dan Adinda ini menjadi mercusuar ilmu pengetahuan di bumi Lebak. 
 
“Sebagaimana novel Multatuli, bahwa musuh kita hari ini bukan penjajah yang mengangkat senjata akan tetapi musuh kita hari-hari ini dan kedepan adalah kebodohan, ketertinggalan dan kemiskinan dan senjata yang paling ampuh untuk memerangi ke tiga musuh itu adalah pendidikan,” kata Iti saat peresmian Museum Multatuli pekan lalu.
 
MENAMBAH ILMU
Kepala Seksi Cagar Budaya  dan Museum Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lebak, Ubaidilah Muctar. (poto dok. chanelbanten.com)
Kepala Seksi Cagar Budaya dan Museum Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lebak, Ubaidilah Muctar. (poto dok. chanelbanten.com)
 
Pendirian Museum Multatuli sempat menuai kritikan tajam dari sejumlah aktivis Mahasiswa Lebak. Namun, Pemkab Lebak tak bergeming dengan tetap meresmikan museum Multatuli. 
 
Berbeda dengan sikap Mahasiswa, seorang pelajar SMA di Rangkasbitung bernama Hendrik yang mengaku keberadaan museum sangat bermanfaat untuk menambah ilmu.
 
“Selama ini kita hanya tahu namanya saja Multatuli, tetapi sekarang kita bisa lihat beberapa peninggalan bersejarahnya. Selain itu, di museum juga banyak hal lain yang bisa menambah ilmu,” ucapnya. (Duy)   

Komentar

Berita Lainya