oleh

Kisah Wartawan Banten Yang Gagal Melihat Air Terjun di Geopark Ciletuh (Bag 1)

CHANELBANTEN.COM – Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat memiliki beragam destinasi wisata alam yang sangat memesona. Salah satunya Geopark Ciletuh, Pelabuhan Ratu yang terletak di ujung barat Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat. yang kini menjadi tempat wisata baru dan sangat populer.

Ada beragam tempat wisata di kawasan taman bumi yang memiliki luas sekira 1.261 kilometer persegi ini mulai dari wisata pantai, air terjun hingga panorama alam yang eksotis. Selain terkenal dengan keindahan panorama alamnya yang eskotis, Geopark atau taman bumi Ciletuh juga terkenal dengan wisata air terjun atau curug yang airnya cukup deras.

Namun, derasnya air terjun atau curug di Geopark tidak ditemukan saat chanelbanten.com, berkunjung ke sejumlah air terjun di kawasan tersebut, Minggu (23/09/2019). Yang ada hanya tetesan air dari atas bukit yang jatuh ke kolam air yang warnanya sepeti ke hijau-hijauan.

Sore itu, Sabtu (22/09/2019) sekira pukul 15.00 WIB cuaca di kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak sangat cerah. Dengan mengucap bismillah, kami bertiga berangkat ke Geopark Ciletuh dengan menggunakan sepeda motor.

Rute yang kami ambil melalui jalur Bayah – Cimaja yang melewati Cisungsang, Cisolok. Sengaja kami melalui jalur ini karena di jalur ini (Cisungsang – Cimaja) pemandangan di sepanjang jalan cukup indah. Kondisi jalan di jalur ini atau dari Bayah hingga Cimaja lumayan bagus hanya ada beberapa ruas jalan yang sedang diperbaiki.

Sekira pukul 18.00 WIB kami sampai di jembatan atau pertigaan menuju Geopark Ciletuh. Setelah beristirahat beberapa menit kami pun langsung tancap gas melanjutkan perjalanan.

Ada dua jalur menuju Geopark Ciletuh dari tempat kami beristirahat, yakni jalur atas melalui Waluran dan jalur bawah melalui Loji. Karena baru pertama ke tempat itu ditambah hari sudah gelap, kami mengambil jalur lurus atau jalur atas.

Perjalanan pun menjadi panjang, karena jarak tempuh melalui jalur atas lumayan jauh. Ditambah, banyak belokan dan tanjakan serta jurang yang cukup terjal di jalur tersebut sehingga bagi para pengemudi harus extra hati melintasi jalur ini. Kondisi lalu lalang kendaraan di jalur hutan ini ini cukup sepi, karena kebanyakan melalui jalur bawah, Loji.

 Setelah melalui perjalanan yang cukup mendebarkan dan melelahkan, sekira pukul 20.00 WIB, kami pun tiba di tempat wisata Panenjeoan, Desa Tamanjaya, kecamatan Ciemas. Kami pun segera mencari penginapan untuk beristirahat.

Ada banyak penginapan atau home stay di tempat ini. Harganya pun cukup terjangkau, mulai dari Rp. 250 hingga Rp. 500 ribu.

Setelah beristirahat, kamipun mulai melakukan penelusuran ke sejumlah tempat wisata yang ada di Geopark. Tempat pertama yang kami singgahi adalah Bukit Panenjoan. Ditempat ini kita bisa melihat pemandangan alam dari atas bukit.

Puas melihat keindahan alam dari atas bukit Panenjoan, kami pun tancap gas kuda besi menuju tempat wisata lain. Oleh warga setempat, kami diarahkan untuk mengunjungi air terjun yang jaraknya tak jauh dari bukit Panenjoan.

Kami pun segera menelusuri keberadaan air terjun di kawasan taman dunia yang menghampar di 8 kecamatan 74 desa/kelurahan ini. Curug pertama yang kami temui di sepanjang jalan yakni curug Cimanik. Namun, sebelum kami masuk ke lokasi, seorang warga setempat yang kebetulan berpas-pasan dengan kami memberitahu jika air curug sedang kering.

“Kalau mau lihat curug disini percuma kalau sekarang, karena airnya lagi kering kang, kalau tidak percaya sok aja lihat langsung,” ucap warga setempat.

Karena, penasaran kami pun nekat untuk tetap mendatangi curug itu. Benar saja, apa yang dikatakan warga tadi tidak bohong. Tidak terlihat adanya air terjun di tempat itu, hanya aliran air kecil saja yang mengalir di curug itu.

Tak patah semangat, kami pun mencari curug lain yang ada di Geopark Ciletuh. Berdasarkan keterangan dari sejumlah warga di kawasan Geopark Ciletuh, jika di musim kemarau air curug banyak yang kering.

Namun, kami diarahkan ke curug Sodong yang cukup populer di kawasan itu. Karena, selain jaraknya cukup dekat dan bisa dijangkau dengan kendaraan, debit air di curug itu terkenal cukup deras.

Dengan penuh semangat, kamipun memacu dengan kencang si kuda besi agar segera sampai ke Curug Sodong. Sepanjang perjalanan, kami membayangkan mandi dengan guyuran air terjun yang jernih, dingin dan menyegarkan. Maklum, kami sengaja tidak mandi pagi karena ingin mandi di curug.

Namun, harapan kami untuk bisa melihat air terjun dan deras dan mandi diantara percikan air terjun yang jernih tidak terwujud. Sesampainya di curug Sodong, kami hanya melihat tetesan air dari atas bukit dan kolam air yang berwarna hijau.

Kami pun hanya bisa menahan kecewa yang mendalam, karena tidak melihat keindahan air terjun curug Sodong yang deras. Rupanya tak hanya kami yang merasa kecewa dengan penampakan curug Sodong sekarang yang hanya ada gemericik air saja, pengunjung yang lain pun banyak yang merasa kecewa.

“Sama Mas, saya juga jauh-jauh dari Jakarta Cuma ingin melihat dan mandi di Curug Sodong, eh pas datang air terjunya kering. Udah gitu, airny hijau dan agak bau gitu jadi malas mandi juga,” kata Rendi, seorang pengunjung asal Jakarta.

Padahal, Rendi sudah membayangkan suara gemuruh derasnya air terjun yang cipratan airnya membasahi sekujur tubuhnya. Rendi merasa heran, debit air terjun curug sodong bisa mengalami kekeringan.

Padahal kata dia, jika dilihat dari letaknya curug Sodong merupakan hulu air atau mata air. Menurutnya, sangat aneh jika ada air terjun yang mengalami penyusutan debit air sangat parah seperti air terjun curug Sodong.

“Kalau dilihat di internet arinya deras dan bening gitu, makanya saya rela jauh datang kesini. Yah, pas ke sini beda 100 derajat dari gambar yang ada di internet. Tapi, kok rada aneh ya, masa sih curug yang berada di hulu air, tetapi bisa kering begini, ” pungkasnya.

Tampak air terjun Curug Sodong yang deras. 2 Januari 2019. (foto diambil dari portal berita online)
Tampak air terjun Curug Sodong yang deras. 2 Januari 2019. (foto diambil dari portal berita online)
Tampak air terjun Curug Sodong yang kering tak terlihat derasnya aliran air terjun, 23 September 2019. (foto Ade Rojak/chanelbanten.com)
Tampak air terjun Curug Sodong yang kering tak terlihat derasnya aliran air terjun, 23 September 2019. (foto Ade Rojak/chanelbanten.com)

Setidaknya, kekecewaan kami dan para pengunjung lain sedikit terobati dengan pemandangan alam di kawasan curug Sodong yang indah. Pengunjung masih bisa foto-foto dengan latar belakang tebing curug Sodong yang kering.

kru chanelbanten.com swa foto dengan latar belakang Curug Sodong yang tak ada air terjunya. (Minggu, 23/09/2019)

Menurut warga sekitar, sudah 2 kali musim kemarau debit air curug Sodong mengalami penurunan yang cukup signifikan. 2 tahun sebelumnya, meski kemarau panjang, debit air curug Sodong tetap terlihat deras.

“Kalau 2 tahun yang lalu mah, kemarau panjang juga air terjun tetap besar airnya ngga seperti sekarang ngocornya kayak air keran,” beber seorang warga yang berjualan di area curug Sodong.

Ia membeber, kemungkinan menyusutnya debit air curug, karena di atas bukit sudah tidak ada pepohonan. Ditambah, banyak warga yang memasang selang di hulu curug untuk dialirkan ke rumah-rumah warga.

Ditempat itu, lanjut dia, ada satu lagi air terjun yakni curug Cikanteh. Namun, sama seperti Curug Sodong, debit airnya mengalami penyusutan atau kering.

“Ada satu lagi curug diatas tempat ini, tapi sama airnya kering juga. Saya tanya ke temang-teman di daerah lain hampir semua curug mengalami kekeringan,” bebernya.

TIDAK TERAWAT

Pengamatan kami, para pengunjung yang datang hanya duduk-duduk santai di sekitar curug sambil memandangi pemandangan alam. Sesekali, membasuh muka dengan air di kolam curug yang berwarna hijau sebagai pengobat rasa kecewa.

Disekitar curug, banyak para pedagang yang menjajakan daganganya bahkan hingga masuk ke area curug. Parahnya lagi, di area curug warga juga bebas memasak dengan membakar kayu.

Sampah plastik bekas makanan banyak berserakan di area curug, tak ada terlihat tempat sampah di tempat itu. Kondisi ini tentu saja, menambah kesan kumuh dan tak terawat tempat yang seharusnya dijaga dan dirawat dengan baik. (red – bersambung)

 

Komentar

Berita Lainya