oleh

Mengenal Seni Tradisional Dogdog Lojor Kasepuhan Banten Kidul

CHANELBANTEN.com – Pernah dengar seni musik tradisional dogdog lojor?. Kesenian musik ini boleh jadi masih asing ditelinga sebagian masyarakat luas. Namun perlu diketahui, bahwa kesenian musik ini termyata merupakan salah satu musik khas kasepuhan Banten Kidul.

Alat musik yang dimainkan dengan cara ditabuh ini digelar hanya saat perayaan seren taun saja. Namun, sesekali seni musik adat ini juga dimainkan saat menerima tamu khusus atau pentas-pentas seni. Dinamakan dogdog lojor, karena alat musik ini memiliki panjang (dalam bahasa adat disebut lojor) hampir satu meter dan berbunyi dog,dog saat ditabuh sehingga diberi nama dogdog lojor. Alat musik ini terbuat dari kayu berbentuk silinder memanjang dengan bagian tengahnya dibuat berongga dengan salah satu sisinya ditutup membrane dari kulit kambing atau kerbau. Jumlah para penabuhnya biasanya enam hingga sepuluh orang disesuaikan dengan alat musik yang ada.

Dogdog lojor ini sendiri diperkirakan berkembang pertama kali di wilayah selatan Kabupaten Lebak yakni di Kecamatan Cibeber. Instrumen musik ini merupakan pengiring ritual adat masyarakat adat saat merayakan seren taun atau ruwatan. Tabuhan dogdog lojor dibawakan secara riang gembira sebagai wujud syukur atas hasil panen yang melimpah.

Dogdog lojor merupakan instrumen musik khas kasepuhan adat Banten Kidul. Tak sembarang orang bisa memainkan dogdog lojor, diperlukan latihan khusus untuk bisa memainkan secara benar alat musik khas adat yang satu ini. Karena jika dimainkan secara asal, maka instrument musik akan terdengar sumbang sehingga merusak kekhusyuan ritual adat. Tak cukup bisa menyamakan instrument, tetapi setiap individu penabuh dogdog lojor harus memiliki ketangkasan saat memainkan alat musik ini. Soalnya, saat dipentaskan para penabuh ini harus menunjukan ketangkasanya memainkan alat karena biasanya ada dua kelompok pemain musik dogdog lojor dan angklung buhun saat ritual.

Dalam prosesi ini (adu ketangkasasan), masing-masing berupaya memukul dogdog lawanya dengan gaya jenaka. Sengaja dipentaskan seperti itu, agar para penontong terhibur dan tidak bosa menyaksikan permainan dogdog lojor.

Namun sayangnya, regenerasi serta upaya pelestarian pelaku seni musik tradisional adat ini terkesan mandek. Hal ini, tampak dari para pelaku atau penabuh yang sering pentas selalu didominasi para pemain yang sudah lanjut usia. Oleh karenanya, harus ada langkah kongkrit dari dinas terkait agar keberlangsungan kesenian tradisional adat ini tetap lestari. (SA)

Komentar

Berita Lainya