oleh

Menyita Dan Merazia Handphone di Sekolah Melanggar Privasi, Benarkah ?

CHANELBANTEN.com – Gadget saat ini sudah tidak asing lagi di mata masyarakat, bahkan menjadi kebutuhan primer dan bukan lagi dianggap  suatu barang mewah yang menjadi kebutuhan sekunder di masa lampau.

Pemerhati Pendidikan Kabupaten Lebak, Roy menilai Bukan hanya itu, zaman sekarang ini gadget sudah merambah hingga dunia anak tidak hanya orang dewasa saja yang mempunyai dan bisa mengoperasikan  gadget, namun anak di bawah umur mulai dari anak yang duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Dasar (SD), hingga anak yang masih duduk di bangku taman kanak-kanak pun punya, dan sudah menjadi pengganti permainan mereka.

Terlebih lagi dunia remaja yang saat ini mengikuti trend aplikasi yang semakin ngehits, mempunyai gadget dengan tujuan memenuhi hasrat agar kekinian dan tidak dianggap jadul, bahkan kemana pun, di mana pun, kapan pun, gadget tak luput dari genggaman tangan.

“Negatifnya, contohnya yaitu remaja yang di bawah umur atau duduk di bangku SMP atau SMA yang menyimpan konten berbau pornografi atau menyimpan gambar kekerasa. Untuk mencegah hal itu, sekolah seringkali mengadakan razia handphone, dalam mencegah atau mencari tahu murid didiknya yang didapati menyimpan konten yang berbau pornografi,”kata Roy kepada chanelbanten.com, di kantornya Jl.H.Ir.Juanda, Kelurahan MC.Timur, Kecamatan Rangkasbitung.

Roy menjelaskan, yang menjadi permasalahan adalah ada dua hal mencolok dalam razia handphone ini. Pertama adalah soal hak. Setiap orang yang mempunyai kebebasan dalam melakukan sesuatu, akan tetapi diatur oleh undang-undang atau norma yang berlaku.

Baca juga : 

Kedua adalah hak privasi seseorang yang dilanggar atau tentang telekomunikasi. Sekolah seringkali tidak mempunyai hukum yang jelas dalam mengatur muridnya untuk boleh atau tidak membawa handphone. Terkadang guru sendiri pun hanya sekedar berbicara tidak boleh menggunakan handphone tapi mereka malah membawa.

Walaupun sebenarnya tindakan sekolah dalam melakukan razia merupakan tindakan pencegahan atau preventif, namun tak jarang juga pihak sekolah yang merazia tidak hanya melihat galerinya saja. Terkadang perazia kepo dengan urusan pribadinya, hingga berani membuka pesan atau jejaring media sosial yang ada di hp tersebut. Imbuhnya

“Ya memang kembali lagi dalam wujud preventif dan wujud penanganan, akan tetapi itu termasuk mengusik kehidupan pribadi seseorang, privasi seseorang sangat terganggu. Bagaimanapun guru harus mematuhi aturan undang-undang yang berlaku, sebaiknya sebelum melakukan razia terlebih dahulu berkoordinasi dengan pihak orang tua murid,”ungkapnya. (Indra)

 
 
 

Berita Lainya