oleh

Pendirian Museum Mutatuli Bukan Untuk Mengkultuskan Tokoh Belanda

CHANELBANTEN.com – Berdirinya museum sejarah “Multatuli” bukan semata-mata bermaksud untuk mengkultuskan atau bahkan mengangung-agungkan tokoh Belanda. Keberadaan museum itu lebih pada bagian dari upaya ikhtiar pemerintah daerah untuk memperkenalkan   sejarah bangsa, khsusunya Kabupaten Lebak kepada generasi muda.

“Berdirinya museum Mulatuli sama sekali bukan untuk mengkultuskan tokoh Belanda. Kami hanya ingin berikhtiar memperkenalkan sejarah kepada generasi muda, bukan hanya kisah tentang Multatuli, tetapi juga tetang sistem kolonial yang bekerja selama berabad-abad di negara kita ini,” ungkap Bupati Lebak, Iti Octavia Jayabaya  yang disampaikan Bagian Hubungan Masyarakat dan Komunikasi (Humaskom) Pemkab setempat seusai menghadiri acara Simposium Para Pembongkar Kejahatan dari Multatuli sampai Sukarno Di Museum Nasional, Jakarta Pusat, Sabtu (17/9/2016).

Iti berharap, keberadaan museum Multatuli ini tidak sebatas menjadi milik warga Lebak saja. Namun, bisa menjadi milik rakyat Indonesia pada umumnya dan bahkan warga dunia yang menjungjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, sebagaimana semangat Eduard Douwes Dekker  ketika menulis roman Max Havelaar.

 

Dalam museum tersebut, lanjutnya dia, nantinya bukan hanya akan memamerkan kisah tentang Multatuli semata, melainkan juga tetantang sistem kolonial yang bekerja selama berabad-abad di Negara Indonesia, khususnya di Kabupaten Lebak. Selain itu dalam museum ini juga akan ditampilkan bagaimana rakyat Indonesia, khususnya Lebak dan umunya Banten  dalam melawan dominasi Kolonial Belanda.

“Jadi, di museum ini nantinya akan banyak dipamerkan sejarah-sejarah di Banten di era kolonial dan perlawanan masyarakat Banten terhadap kolonial,” katanya.

Kepala Bagian Humaskom Pemkab Lebak, Eka Prasetiawan menagatakan,  keberadaan musemum ini dinilai sangat penting agar generasi muda belajar sejarah, baik sejarah negerinya maupun sejarah kampung halamannya sendiri.

“Ketika kita semua memahami sejarah, semestinya pula kita bisa memahami apa tugas kita yang hidup dihari ini untuk merancang hari depan yang lebih baik,” ucapnya.

Dijelaskan, museum multatuli ini nantinya akan menerima seluruh koleksi-koleksi yang ada di rumah kelahiran Tokoh Belanda yang pernah menjadi Assisten Residence Kabupaten Lebak tesebut. Dalam konsep penataan ruang yang terindegrasi dengan pemeirntahan, alun-alun Rangkasbitung, perpustakaan dan museum ini dalam prespektif Lebak dimasa depan, akan memiliki fungsi stategis, salah satunya menjadi ikon Lebak bagi Indoneisa bahkan Internasional.

“Selain itu, bisa menjadi pusat literasi dan informasi sejarah Lebak, tempat pelestarian koleksi sejarah dan bisa menjadi alternatif destinasi wisata,” katanya.

Sementara, penyelenggara simposium tersebut, Bonnie Triana, mengatakan, roman yang ditulis Eduard Dowes Dekker yang pernah bekerja dan tinggal di Lebak selama 3 Bulan  diawal tahun 1856 ini mampu membangkitkan nasionalisme bangsa, bahkan banyak tokoh yang terinspirasi oleh roman ini.

“Kegiatan Simposium ini sengaja digelar, yang salah satu tujuannya untuk menyambut pembangunan Museum Multatuli yang kini sedang berjalan di Rangkasbitung,” katanya. (Izam)

Berita Lainya