oleh

Sejarah Kelam Romusha di Kecamatan Bayah, Satu Nyawa Untuk Satu Bantalan Rel Kereta Api

CHANELBANTEN.com – Banyak kenangan sejarah pahit yang dialami bangsa ini dalam merebut kemerdekaan dari tangan penjajah. Sejarah romusha di kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak adalah satu dari sekian banyak luka sejarah yang dialami bangsa ini. Kini, kenangan sejarah di pesisir pantai ujung Banten ini hanya tinggal tersisa berupa tonggak monumen dan rel kereta api yang terabaikan dan tak terawat. 

Kampung Pulau Manuk yang terletak di Desa Darmasari adalah satu dari beberapa lokasi di kecamatan Bayah yang menjadi saksi bisu aksi penindasan Jepang terhadap para romusha. Ditempat inilah, 73 tahun silam ribuan para romusha meregang nyawa akibat dibiarkan kelaparan dan terserang berbagai penyakit.

Sayangnya, kuburan para romusha malah tidak ada lagi tanda-tandanya yang tersisa hanyalah tanah kosong di sela-sela semak dan sebagian sudah diisi bangunan. Kampung Pulo Manuk berada di kawasan pesisir pantai dengan luas sekira 80 hektare dan hanya berjarak sekira lima kilometer dari pusat pemerintahan kecamatan Bayah. 73 tahun lalu, Pulo Manuk yang kini menjadi salah satu destinasi wisata Kabupaten Lebak ini hanyalah hutan dan semak-semak. Kala itu, tentara Jepang saja takut pergi ke Pulomanuk karena tempat itu menjadi sarang malaria, disentri, kudis, borok dan penyakit lainnya. Dalam satu hari ada sekira tiga hingga lima orang romusha yang mati akibat kelaparan dan terserang penyakit.

Kehadiran romusha di kota yang kini sedang dibangun pabrik semen itu, diperkirakan datang sekira tahun 1942. Sebagian romusha itu didatangkan dari Jawa Tengah, seperti Purworejo Kutoharjo, Solo, Purwodadi, Semarang, Yogyakarta dan daerah di Jawa lainya. Para romusha ini tersebar di sejumlah tempat di kecamatan Bayah yakni di Kampung Pasir Kolecer, Cikadu, Kampung Sawah, Purwodadi dan Pulomanuk.

Dari sejumlah tempat itu, camp yang paling banyak berada di Kampung Pulo Manuk jumlahnya mencapai puluhan ribu. Sejarah mencatat, setelah tahun 1942 Jepang mengalami kesulitan hubungan laut akibat kegiatan kapal selam sekutu. Kondisi ini, menimbulkan masalah bahan bakar bagi angkutan tranportasi Jepang yang saat itu mendudukui Jawa.

Untuk mengatasi hal itu, pada tahun itu pula Jepang menggagas untuk memanfaatkan batu bara sebagai bahan bakar. Jepang mendapatkan sebuah laporan bahwa di wilayah Bayah memiliki kandungan batu bara mencapai 20-30 juta ton. Dari sinilah, Jepang mulai merancang pembangunan jalur kereta api untuk bisa mengekploitasi dan mengangkut hasil tambang batu bara. Sekira awal tahun 1943, Jepang memulai pembangunan jalur kereta api sepanjang 89 kilometer yang dimulai dari Saketi berakhir di Bayah.

Bantalan kayu dan rel dikirim dari seluruh Jawa ke Saketi. Nah, untuk menyelesaikan pembangunan jalur, KA Jepang pun mulai merekrut romusha dari berbagai daerah di pulau Jawa. Puluhan ribu romusha pun mulai didatangkan oleh Jepang ke wilayah ini. Diperkirakan jumlah romusha yang didatangkan mencapai angka sekira 25-55 romusha. Masa kelam pun dimulai.

Sejak dimulainya kerja paksa tidak kurang dari 500 romusha tewas setiap harinya. Pada sekira bulan Maret 1944 jalur telah siap, dan dibuka pada 1 April 1944 dengan lokomotif BB10.6 yang pertama melintasi jalur ini. Jalur dengan sepur tunggal ini berawal dari stasiun Saketi, Kabupaten Pandeglang melewati sembilan stasiun yaitu Cimangu, Kaduhauk, Jalusang, Pasung, Kerta, Gintung, Malingping, Cilangkahan, Sukahujan, Cihara, Bayah dan berakhir di stasiun Gunung Madur. Setiap harinya, maksimum 300 ton batu bara di bawa ke stasiun Saketi. Selain batu bara, ada pula kereta api penumpang, namun karena daerah ini saat itu berpenduduk jarang sebagian besar penumpang adalah pekerja kereta api atau pekerja tambang.

Kehadiran para romusha ini tak hanya kerja paksa untuk membangun rel kereta api dari Saketi – Malingping, tetapi dipekerjakan sebagai romusha di perkebunan karet. Banyaknya para romusha yang ditempatkan di Pulo Manuk sebagian untuk dipekerjakan di perkebunan karet milik perusahaan Belanda yang diambil alih Jepang.

Kini, kampung yang di huni sekira 100 kepala keluarga (KK) itu sudah banyak berdiri bangunan. Namun, pada tahun 1942, kampung tersebut hanya dijadikan camp oleh para romusha. Dalam satu camp yang terbuat dari batang kayu dan beratapkan rumbia ini diisi oleh sekira lima puluh romusha.

Baca juga : 

Bahkan waktu itu, tak ada satupun penduduk setempat yang berani mendirikan tempat tinggal disana, karena memang dilarang oleh tentara Jepang.

“Makanya, para pekerja di perkebunan karet kebanyakan orang Jawa. Karena memang dulunya para pekerjanya para romusha yang notabene berasal dari Jawa,” kata seorang warga kecamatan Bayah MS A Badjaji.

MS A Badjaji (80) merupakan seorang saksi hidup sejarah keberadaan romusha di kecamatan Bayah. Badjadji menceritakan Bayah menjadi tempat berkumpul romusha dan pegawai pertambangan sejak Jepang mengeksploitasi tambang batu bara pada 1 April 1943. Pada awal penambangan, sekitar 20 ribu orang datang dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. Romusha mendapat upah 0,40 gulden (40 sen) dan 250 gram beras setiap hari.

Uang 40 sen hanya cukup buat membeli satu pisang.Dalam memoarnya, Badjaji mendapat cerita tentang asal-usul Saketi. Kata Saketi berasal dari bahasa Sunda, yang artinya 100 ribu. Konon, 100 ribu itu mengacu pada ramalan tentang banyaknya korban selama pembuatan jalur kereta Saketi-Bayah. Jadi, kalau jarak Saketi ke Bayah 90 kilometer, ada satu nyawa melayang dalam satu meter rel.

“Kalau ingin tahu jumlah korban romusha yang tewas hitung saja berapa jumlah bantalan rel dari Saketi – Bayah,” beber Badjadji.

Saat ini, lanjut dia, Kampung Pulo Manuk selain sudah di huni oleh penduduk local sebagian lahanya sudah dikapling-kapling dan kebanyakan lahan tersebut milik warga luar daerah. Saat ini, lanjut dia, saksi hidup sejarah romusha sudah tidak hanya tinggal tersisa bangunan monumental seperti tugu romusha, rel kereta api dan eks tambang batu bara. Sayangnya, bangunan sisa sejarah itu saat ini terancam punah karena terabaikan dan tak terawat.

“Rel-rel kereta api, bangunan stasiun juga sudah pada hilang dan hancur. Kalau tidak salah hanya ada sumur tempat mencuci kereta saja yang tersisa,” ungkapnya.

Sumur romusha, tempat para romusha mengambil air untuk minum yang terletak di lahan perkebunan, belakang SLTPN 1 Bayah, kini tertutup tanaman liar. Jenis sayuran yang dahulu dikonsumsi para romusha, seperti sayur bunga karang, sayur ganggang laut, dan lodeh empot, juga sudah sulit didapat di Pasar Bayah.

Upacara peringatan romusha oleh masyarakat setempat, berupa atraksi atau karnaval, pun sudah lama tidak digelar. Menurut Badjaji, sudah puluhan tahun upacara peringatan romusha tidak digelar seiring dengan meninggalnya para bekas romusha.

Andaikata semua itu masih terawat, niscaya akan menjadi obyek wisata sejarah, melengkapi wisata pantai yang membentang di pesisir Banten Selatan. Keindahan panorama pantai akan diperkaya oleh kedalaman perenungan batin atas perjalanan sejarah negeri ini. (***)

Penulis : Ep Yudha (Mantan Wartawan Radar Banten)

Komentar

Berita Lainya